Tradisi Kawin Lari
Kawin Lari merupakan tradisi masyarakat Lombok khususnya suku sasak. Mencuri untuk menikah lebih kesatria dibandingkan meminta kepada orang tuanya. Namun ada aturan dalam mencuri gadis di suku asli di Pulau Lombok. Dan gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah lelaki, harus dititipkan ke kerabat laki-laki. Setelah sehari menginap pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemebritahuan bahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat tetapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh ketahuan keluarga perempuan.
Ketika pasangan pengantin dengan menggunakan baju adat Lombok sang pengantin diarak menuju tempat orang tua si pengantin perempuan sambil berjalan kaki. Sebelum masuk ke pelaminan, pemuda Lombok biasa ‘menculik’ anak gadis yang disukainya. Jika orangtua si gadis setuju dengan pemuda yang akan menikahi anaknya, ia akan memberi tanda dengan cara membasuh kaki pemuda tersebut dengan air sirop atau air kelapa. Sementara jika ia tidak setuju disimbolisasikan dengan membasuh menggunakan air tajin. Jika orangtua gadis tersebut menolak tetapi si pemuda tetap ngotot untuk menikahinya, orangtua si gadis biasanya menetapkan mahar yang tinggi untuk merestui anaknya. Ini sebagai ikatan agar anaknya diperlakukan secara baik.
Dalam pergaulan dengan lawan jenis, dikalangan wanita Lombok terutama remajanya juga dikenal istilah ‘pandai menipu’. Maksudnya, wanita Lombok dikenal memiliki banyak pacar, karena itu ia harus pandai-pandai menyiasati diri agar tidak ketahuan oleh pacar lelakinya yang lain. Malah ada anggapan kalau pacarnya hanya satu berarti tidak laku dan tidak di hormati.Justru bagi wanita Lombok banyak pacar adalah sebagai suatu kebanggaan tersendiri..Ada cerita menarik yang kami kutip”Biasanya pada saat 2 atau 3 sebelum hari raya idul fitri”Sang pacar akan membawa beberapa hadiah yang di peruntukkan bagi sang gadis.ini lah kelihaian dari perempuan untuk menyiasati pertemuan,karena si lelaki dateng pada waktu yang bersamaan.
Poteng Jaje Tujaq, Jajanan Khas Acara Besar di Lombok
Tradisi
penganan lebaran di Lombok adalah sajian Poteng-Jaje Tujak. Nama apa
itu? Tidak lain adalah Tape (poteng) dan Uli (Jaje Tujak-kalau di Jawa
disebut Tetel). Poteng yang rasanya manis dimakan dengan Jaje Tujak.
Seperti apa poteng tersebut? Nah bahannya adalah menggunakan ketan putih Bontok yang kwalitas bagus. Kalau tidak bagus, ketahuan rasanya seperti beras mentah tidak nyaman walau manis. Harganya saat ini di pasar Mandalika di kota Mataram mencapai Rp15 ribu per kilo. Ini untuk membuat satu loyang – sekitar lima piring nasi. Kemudian sebagai pewarna hijaunya, menggunakan daun Suji (pandan kecil) sebanyak 10 lembar. ‘’Sebagai pengharum, digunakan pandan sebanyak lima lembar,’’ kata seorang warga di Peresak Timur Jebak Beliq Mataram, Rauzana, 57 tahun. Nah kesemuanya dikukus sekitar 1,5 jam dalam dandang.
Seterusnya,
diangin-anginkan di Kleong (bahasa Sasak untuk nampan) sekitar satu jam.
Kemudian dipindahkan ke dalam panci dan ditaburi ragi sebagai
campurannya. Ragi ini adalah bibit poteng – yang orang lokal menyebutnya
ragi. Ragi yang disebarkan di atasnya, untuk menghasilkan air dari tape
ketan tadi. Lantas ditutup menggunakan daun pisang dan selanjutnya
panci ditutup rapat selama tiga hari menunggu jadinya poteng – berair
manis lezat.
Nah, teman makan poteng ini adalah Jaje Tujak itu. Membuatnya, juga menggunakan ketan putih Bontok sekilo yang dikukus bersama kelapa yang agak muda setengah butir, diparut terlebih dahulu. Ditambahi garam secukupnya untuk membuat rasa supaya tidak hambar.
Setelah 1,5 jam dianggap matang, dalam keadaan panas-panas ditumbuk di dalam Geneng (lumpang) sampai lembut hingga mudah dibentuk di Kleong atau loyang. Kemudian dipotong-potong sesuai keinginan ukurannya. Biasanya kecil-kecil sesuai selera untuk makan poteng tadi.
Nah, teman makan poteng ini adalah Jaje Tujak itu. Membuatnya, juga menggunakan ketan putih Bontok sekilo yang dikukus bersama kelapa yang agak muda setengah butir, diparut terlebih dahulu. Ditambahi garam secukupnya untuk membuat rasa supaya tidak hambar.
Setelah 1,5 jam dianggap matang, dalam keadaan panas-panas ditumbuk di dalam Geneng (lumpang) sampai lembut hingga mudah dibentuk di Kleong atau loyang. Kemudian dipotong-potong sesuai keinginan ukurannya. Biasanya kecil-kecil sesuai selera untuk makan poteng tadi.
![]() |
Makanan tradisional warga Sasak di Lombok lainnya adalah Keciput, Tarek, Kaliadem. Keciput berupa jajan yang berbentuk bulat-bulat seperti kelereng dibuat dari tepung ketan yang diadon pakai air, gula dan garam. Tarek juga dibuat dari tepung beras, diadon pakai air santan dan garam yang kemudian dibentuk sesuai cetakan berupa seperti kipas. Kaliadem menggunakan tepung beras diadon sama gula merah yang dicairkan - direbus terlebih dahulu menggunakan garam dibentuk seperti angka delapan.(*)
Pantai Selong Belanak, Hawaii nya Lombok
Keindahan alam pulau Lombok yang masih perawan banyak menyimpan
tempat-tempat yang patut untuk kita kunjungi dengan keluarga, teman dan
handai taulan. Salah satunya adalah keindahan pantai putih yang berada
di kabupaten Lombok Tengah yang bernama pantai Selong Belanak.
Perjalanan menuju ke pantai selong belanak bisa kita tempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dengan keadaan jalan yang sudah di hotmik. Untuk ke tempat ini, bila berangkat dari Kota Mataram anda cukup melaju ke jalur Bandara Internasional Lombok.
Perjalanan menuju ke pantai selong belanak bisa kita tempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dengan keadaan jalan yang sudah di hotmik. Untuk ke tempat ini, bila berangkat dari Kota Mataram anda cukup melaju ke jalur Bandara Internasional Lombok.
Pada
perempatan Batujai kemudian belok kanan mengikuti tikungan sampai di
depan Masjid Nurul Huda Batujai. Di pertigaan masjid tersebut kemudai
belok kiri menuju ke jalur Penujak sampai di tikungan pasar, sekitan 30
meter dari pasar tersebut kemudian belok kanan melewati desa Mungkur.
Lurus lagi keselatan dari desa Mungkur sampai pertigaan yang ada Gapura
dari Besi yang bertuliskan Selong Belanak. Dari gapura tersebut kemudian lurus lagi sampai menuju ke Pantai Selong Belanak.
![]() |
Biaya masuk menuju Pantai Selong Belanak setiap orang sebesar Rp. 2000,- (tidak termasuk biaya parkir). Kalau biaya parkir perkendaraan berupa motor sebesar Rp.2000 dan Mobil sebesar Rp. 5000.
![]() |
Jejeran berugak di pinggir pantai plus para inaq-inaq penjual ikan bakar yang murah senyum menjadikan suasana pantai semakin asyik untuk dinikmati bersama keluarga. Apalagi deretan bukit yang mengelilingi pantai Selong Belanak akan menambah kesan eksotik bagi pantai Selong Belanak.
![]() |
| Perkampungan di sekitaran Pantai Selong Belanak (c) pongery.com |
HOTEL DAN PENGINAPAN SEKITAR PANTAI SELONG BELANAK
Untuk anda yang baru pertama kali ke Lombok, tempat menginap bisa dipilih salah satu hotel hotel Favorit dan Murah di Mataram. Setelah sarapan pagi di hotel anda tinggal berangkat menuju Selong Belanak. Jika ingin menginap di sekitar Lombok Tengah atau Selong Belanak, atau ingin mencari Alternatif terdekat, beberapa hotel seperti Aerotel Mandalika Hotel, Aerotel Tastura Lombok, Kuta Paradise Lombok, Kuta Cove Hotel atau Novotel Lombok Hotel bisa menjadi pilihan terbaik.
DESA SUKARARE SEBAGAI DESA PENGHASIL KAIN TENUN
Desa Sukerare merupakan desa penghasil kerajinan tenun songket Lombok
yang terkenal. Lokasinya berada di luar jalur jalan negara, Kecamatan
Jonggot, Lombok Tengah. Perjalanan menuju desa ini dapat ditempuh
menggunakan angkutan umum dari Bertais ke Praya dan turun ketika
menjelang sampai di Puyung. Kemudian dapat dilanjutkan dengan memakai
jasa ojek menuju Sukarara.
Seperti dikenal sebelumnya bahwa Sukarara adalah sentra penghasil songket terbesar di Lombok.
Hal ini sudah menjadi bagian dari komoditi hingga merambah pasaran luar
negeri. Tenun songket merupakan kain tenun yang dibuat dengan teknik
menambah benang pakan dengan hiasan-hiasan dari benang sintetis berwarna
emas, perak, dan warna lainnya. Hiasan itu disisipkan di antara benang
lusi. Terkadang hiasan dapat berupa manik-manik, kerang, maupun uang
logam.
Setibanya di Sukarara, maka pengunjung akan langsung disambut oleh
kaum perempuan berpakaian adat Sasak. Mereka dengan sigap
mendemonstrasikan keterampilan mereka dalam menenun. Beberapa toko
biasanya menyuguhkan tontonan teknik-teknik menenun kain songket, hal
tersebut dapat langsung dilihat oleh para pengunjung. Teknik-teknik
tersebut merupakan teknik tradisional sederhana yang masih dilakukan
oleh pengrajin, yakni mulai dari mengolah benang (menggunakan pemberat
yang diputar-putar dengan jari-jari tangan, pemberat tersebut berbentuk
seperti gasing terbuat dari kayu), hingga menjadi selembar kain yang
berwarna warni. Pengunjung yang berminat pun dapat turut serta mencoba
menenun seperti perempuan-perempuan sasak itu.
Kain Songket ini dipakai sebagai bagian dari pakaian
tradisional suku Sasak yang bernama Baju Lambung (baju wanita), baju
adat khas Lombok dengan motif hitam polos dengan variasi bawahan yang
beragam, biasanya berbentuk selendang, ikat pinggang atau aksesoris
lainnya. Sedangkan untuk yang pria biasanya menggunakan songket sebagai
bawahan (pasangan baju adat Tegodek Nongkeq) yang diatur sedemikian rupa
sehingga indah dipandang. dan Lihat saja gambar dibawah ini, cantik
banget kan kalau baju Lambung dipadukan dengan Kain Songket ini??
Kain tenun rata-rata dikerjakan di rumah (home industry). Hampir setiap rumah memiliki alat tenunnya sendiri. Namun, profesi penenun hanya dilakoni oleh kaum perempuannya saja, sedangkan para pria bekerja sebagai petani di sawah. Ada tradisi unik terkait songket ini, kaum perempuan yang ingin menikah diwajibkan untuk memberikan kain tenun buatannya sendiri kepada pasangan. Apabila belum mampu membuat tenun songket, maka perempuan tersebut belum boleh menikah. Namun, bila nekat ingin menikah juga, maka perempuan tersebut akan dikenakan denda. Denda dapat berupa uang maupun hasil panen padi.
Langganan:
Postingan (Atom)



